|  BERANDA  |  TAJUK TERKINI  |  JELAJAH  |  TSAQOFAH ISLAM  |  SIRAH NABAWIYAH  |  INSPIRASI  |  SAKINAH  |  MAUIDHATUL HASANAH  |  TAHUKAH?  |  JUMRAH.COM  |

Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS

Sosok Azazil Di Masa Pra Penciptaan Adam AS
Sebelum Adam ada, langit dan bumi telah diciptakan jauh sebelumnya. Dari berbagai perbedaan pendapat, paling lama awal kehidupan Adam adalah 6000 tahun sebelum masehi, itu artinya Adam diciptakan 6000 ditambah tahun masehi waktu kita membaca kisah ini. (Simak juga: Azazil, Kekasih Allah di Masa Itu...)

Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...

Azazil, Kekasih Allah Di Masa Itu...
Adalah Azazil, yang beribadah kepada Allah Ta'ala selama ribuan tahun. Dari Hasan Al-Bashri, "Azazil beribadah di tujuh lapisan langit hingga lebih dari 70.000 tahun, sampai ia diangkat ke Maqam Ridwan (Malaikat Ridwan AS), ialah maqam yang sangat tinggi, dimana Ridwan menjadi penjaga Surga. Azazil sebelumnya telah menjadi penjaga surga selama ribuan tahun. (Baca sebelumnya: Sosok Azazil di Masa Pra Penciptaan Adam AS)

Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam

Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam AS
Di suatu masa, tibalah saatnya ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah Ta'ala. (Baca Sebelumnya: Azazil Kekasih Allah Di Masa Itu...)

Antara Iblis, Malaikat dan Manusia

Antara Iblis, Malaikat dan Manusia
Bangsa Jin diciptakan oleh Allah dari nyala api (min marij min nar), sedangkan malaikat dari cahaya (nur). Api (nar) dan cahaya (nur) dalam bahasa Arab berasal dari akar kata yang sama, yaitu terdiri dari huruf nun-waw-ra’. (Baca Sebelumnya: Kekhawatiran Malaikat dan Bumi Atas Penciptaan Adam AS)

Awal Kehidupan Adam-Hawa di Bumi

Awal Kehidupan Adam-Hawa di Bumi
Petunjuk-petunjuk Bagi Adam di Bumi

Diriwayatkan, sesungguhnya ketika Adam AS keluar dari surga, ia menutupi tubuhnya dengan daun surga. Ketika sampai di bumi, daun itu menjadi kering dan rontok jatuh ke permukaan bumi, maka semua wewangian di Hindia asalnya adalah dari daun tersebut.


Diceritakan bahwa Allah ta'ala menurunkan kepada Adam delapan pasangan dari hewan (lembu) dari kambing dua pasangan, dari domba dua pasangan. Dan Allah memerintahkan kepada Adam agar minum dari air susunya dan menggunakan pakaian dari bulu-bulunya.

Ketika Adam dan Hawa menangis karena nikmat surga telah putus bagi mereka maka dari tetesan air mata mereka, tumbuhlah kacang hijau dan kacang tanah.

Diceritakan bahwa Adam mengadu kepada Allah, lalu berkata: "Ya Allah, saya tidak mengetahui waktu-waktu untuk beribadah."

Allah pun menurunkan kepadanya seekor ayam putih dari surga sebesar unta. Saat para malaikat memperdengarkan tasbih di langit, maka ayam itu turut 'bertasbih' (berkokok) di bumi dengan demikian Adam mengetahui bahwa saat itu adalah waktu untuk beribadah.

Kemudian Adam menebang pohon-pohon dan menggali sumur-sumur serta membangun rumah. Lalu Allah menurunkan dua puluh satu lampiran yang didalamnya tertera hukum haramnya bangkai, darah, daging babi dan sebagainya.

Allah pun menurunkan huruf-huruf hijaiyyah pada Adam yang jumlahnya ada 29. Dan tak satu pun manusia mampu menambahkannya walaupun satu huruf, maka sesungguhnya hukum tuhan itu sangat tegak dan kokoh. Adam belajar dari huruf-huruf itu agar bisa membaca shuhuf (lampiran) itu.

Referensi - Kitab Bada'iz Zuhur - Imam Jalaludin As Suyuthi


Siti Hawa Memiliki Keturunan

Imam Tsa'labi berkata: "Ketika Ibu Hawa hamil, seketika janinnya bisa bergerak. Ia lalu kaget dan berkata; "...dari mana yang bergerak ini bisa keluar dariku?"

Saat tiba waktunya melahirkan, maka lahirlah anak kembar laki-laki dan perempuan, diberi nama Habil dan Layutsa.

Selepas masa melahirkan dan sudah suci, Adam pun berkeinginan melakukan hubungan badan lagi. Tetapi Hawa menolaknya karena ia telah merasakan betapa sakitnya saat melahirkan. Adam selalu merayunya sampai akhirnya Hawa mau melakukannya lagi.

Dikatakan bahwa wanita itu pura-pura tidak mau padahal sebenarnya sangat menyukai hubungan badan tapi takut pada saat melahirkan, sebagaimana para ahli hukum menjelaskan bahwa syahwat laki-laki itu satu sedangkan perempuan itu sembilan, akan tetapi para wanita itu tertutup malu sehingga mereka tidak memperlihatkannya, itu karena adanya taufiq sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang artinya:

"Mereka (para wanita) menolak tapi sebenarnya mereka sangatlah suka."

Imam tsa'labi berkata:

"Ibu Hawa hamil lagi yang kedua dan lahirlah dua anak kembar laki-laki dan perempuan dalam satu kandungan, lalu mereka diberi nama Qabil dan Iqlima."

Dikatakan Hawa mengandung dan melahirkan sebanyak dua puluh kali, disetiap satu kandungan melahirkan dua anak kembar laki-laki dan perempun maka jumlah anaknya adalah empat puluh orang, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Dikatakan lagi bahwa anaknya ada dua ratus dan tidak pernah melahirkan satu anak dalam satu kandungan kecuali Syits, yang dikeningnya terdapat Nur Musthafa Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dikatakan lagi bahwa anak cucu Adam bertambah terus selama Adam hidup sampai berjumlah kurang lebih empat puluh ribu orang, yang terdiri dari laki- laki dan perempuan.

Sebagaimana dalam firman Allah:

"Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain.Dan (peliharalah) hubungan silaturrahim, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Diceritakan bahwa di saat anak cucu Adam berkembang biak menjadi banyak, mereka saling bertengkar, lalu Allah menurunkan tongkat dari surga pada Adam untuk mendidik mereka yang durhaka oleh karena inilah dikatakan bahwa sesungguhnya tongkat itu dari surga.


Lahirnya Syits AS, Wafatnya Adam AS

Imam tsa’labi menyebutkan; Ketika Syits lahir dan tumbuh dewasa, Adam kemudian menyendiri untuk beribadah kepada Allah dan membaca suhuf, lalu segala urusan saudaranya dipegang dan dikendalikan oleh Syits. Disaat menyendiri Adam mendapatkan wahyu dari Allah:

"Wahai Adam, Aku wasiatkan kepada anakmu Syits dengan apa yang Ku-wasiatkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan memberikan kamu rasa kematian yang aku telah pastikan itu, juga kepada anak cucumu sampai hari kiamat."

Perkataan itu membuat Adam terkejut, dan berkata,

"Wahai Tuhan, apa itu kematian yang telah kau janjikan itu?"

Kemudian Adam meminta Syits datang dan memberikannya wasiat yang banyak, sampai kabar tentang akan datangnya taufan (angin dan banjir) yang membinasakan semua isi alam, juga memberitahukan tentang waktu-waktu ibadah dari malam sampai siang.

Kemudian Adam memberikan ia sejenis kalung yang Adam bawa dari surga dan memerintahkannya untuk melipatkan serta meletakkan di dalam kotak dan menguncinya.

Kemudian Adam mengambil jenggotnya dan meletakan itu kedalam 'tabuut' (kotak) lalu berkata:

"Wahai anakku, ambilah bulu jenggotku ini, apabila engkau mendapatkan perkara yang membuatmu bingung maka bawalah, maka engkau akan mampu mengalahkan musuhmu selama jenggot ini bersamamu, dan jika engkau telah melihat jenggot ini memutih maka ketahuilah bahwa ajalmu telah dekat dan engkau akan mati pada tahun itu."

Kemudian Adam mencabut cincinnya dan memberikan kepada Syits lalu, menyerahkan tabut serta shuhuf yang diturunkan kepadanya (Adam) dan berkata:

"Wahai anakku, perangilah saudaramu Qabil karena sesungguhnya Allah akan memberikan kemenangan atasmu."

Diceritakan bahwa Adam hidup di dunia ini sampai berumur seribu tahun dari diturunkannya ia ke dunia.


Sebuah Kabar yang Mengagumkan


Diceritakan bahwa iblis mendatangi nabi Musa Bin imron dan berbicara:

"Jika engkau bermunajat kepada Tuhanmu, maka mintalah syafaat untukku dan tanyakan apakah masih diterima taubatku jika aku bertaubat?"

Dan disaat Musa bermunajat kepada Allah, ia bertanya:

"Ya tuhan, apakah engkau mau menerima taubatnya iblis jika ia bertaubat?"

Maka Allah Azza Wa jalla menjawab,

"Sudah terlewat dalam ilmu-Ku bahwa dia tidak akan bertaubat tapi Aku Maha menerima taubat dan Maha penyayang, jika dia ingin taubat maka bersujudlah ia pada Adam, jika dia sujud pada kuburnya Adam maka aku akan menerima taubatnya."

Ketika Musa sudah pulang dari munajatnya, maka iblis menemuinya, dan bertanya:

"Hai Musa, apakah engkau telah menyampaikan hajatku?"

Musa menjawab:
"Masalahmu tergantung pada sujudmu dikuburan nabi Adam."

Lalu iblis menjawab:
"Aku enggan sujud pada Adam sewaktu dia masih hidup, bagaimana mungkin aku mau bersujud padanya yang sekarang sudah mati."

Diceritakan bahwa iblis ketika menjelang ajalnya, Allah memerintahkan prajurit-prajuritnya malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya, lalu iblis lari ke semua arah laut dan darat tapi tidak menemukan tempat aman sehingga sampai pada makam Adam AS lalu bersujudlah ia pada makam itu,lalu dikatakan padanya:

"Allah telah menutup pintu taubat maka taubatmu tidak akan diterima."

Setelah jelas tidak akan diterima maka iblis berkata dan pura-pura tidak tahu:

"Andai aku tahu bahwa ini adalah kuburannya Adam, maka aku akan berdiam diri disini dan bersujud."

Kemudian para malaikat mengepungnya dan malaikat izrail mencabut nyawanya dengan keras.

Diceritakan di waktu hari kiamat dan semua penduduk surga telah masuk kedalam surga serta semua penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, Allah memerintahkan agar iblis dikeluarkan dari neraka pada setiap 100 ribu tahun sekali, dan diperintahkan Adam supaya dikeluarkan juga, lalu Allah memberi perintah kepada iblis supaya sujud pada Adam, akan tetapi iblis enggan melakukan sujud, Kemudian ia dimasukkan kedalam neraka lagi dan Adam dimasukkan kesurga lagi.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya syetan bagi manusia adalah musuh yang nyata."

Ditulis kembali oleh Erwin E Ananto | Jumrah.com


Awal Kehidupan Adam Menjadi Penghuni Bumi

Awal Kehidupan Adam Menjadi Penghuni Bumi
Bahkan Hewan pun Dibisukan Demi Adam
 

Di suatu hari, saat langit mulai terang dengan matahari yang bersinar di cakrawala, Adam mengamatinya dengan perasaan kagum. Hingga matahari semakin meninggi di cakrawala, Adam yang telanjang dan tanpa penutup kepala merasakan tubuhnya panas terbakar.

Ketika Jibril datang, Adam menceritakan tentang apa yang telah dialaminya. Saat itu Jibril mengusap kepala Adam, maka kemudian berkuranglah tinggi badan Adam sampai 35 dziro’.


(Simak sebelumnya : 'Para Penghuni Sebelum Adam)

Qotadah berkata:
"Jika Adam merasa haus maka ia meminum awan, dan diriwayatkan pula, jika rambut dan kuku Adam tumbuh panjang, Jibril datang dan memotongnya. Setelah itu bekas potongan tadi dikubur di bumi, maka Allah menumbuhkan pohon kurma di lokasi penguburan tersebut."

Oleh karena ini dikatakan; "mulyakanlah bibimu, yaitu kurma’.

Ibnu Abbas berkata:
"Selama 300 tahun Adam di bumi, ia tidak pernah melihat keatas karena malu kepada Allah Ta'ala, ia terus berdiam diri sembari menangis selama kurang lebih 100 tahun. Maka tumbuhlah rumput-rumput dari tetesan air matanya, burung-burung beserta hewan-hewan buas juga meminum tetesan air matanya itu."

Setelah Adam mengadukan kepada Jibril tentang apa yang dialaminya yang telanjang dan panasnnya terik matahari maka Jibril mendatangi Hawa dengan membawa seekor domba dari surga dan mengambil bulunya lalu diserahkanlah domba itu kepada Hawa.

Kepada Hawa Jibril mengajarinya cara membuat benang dari bulu, setelah dipraktekkan lalu Jibril mengajarinya menenun, maka Hawa pun menenun untuk dibuat selimut. Kemudian setelah selimut itu selesai dibuat Jibril berpaling dari Hawa dan membawa selimut kepada Adam, untuk menutupi tubuh Adam.

Meski pun demikian Jibril tidak menceritakan kepada Adam mengenai selimut itu, yang merupakan hasil dari tenunan Hawa. Kemudian kepada Jibril, Adam mengadu mengenai rasa lapar yang dialaminya. Selama 40 tahun tinggal di bumi Adam belum pernah makan atau pun minum.

Lalu Jibril pergi dan datang kembali membawakannya dua ekor sapi dari surga. Yang satu ekor berwarna hitam dan yang satu ekor berwarna merah. Kepada Adam, Jibril mengajar cara mengolah tanah dan bercocok tanam, setelah itu Jibril datang lagi membawakan secakupan gandum dan mengajari Adam cara menanamnya.

Suatu ketika, saat Adam membajak tanah, tibatiba satu dari dua ekor sapi itu berhenti. Adam pun memukulnya dengan tongkat yang ada ditangannya.

Kemudian dengan ijin Allah Ta'ala, sapi itu berkata kepada Adam; "Kenapa kamu memukulku?"

Adam menjawab: "Karena kamu tidak patuh padaku."

kemudian sapi itu kembali berkata ; "Allah benar-benar maha welas asih padamu Adam, karena tidak memukulmu di saat kamu tidak mematuhi-Nya."

Mendengar ucapan sapi itu Adam langsung menangis dan berkata: "Ya Allah, kenapa semua mencelaku? Sehingga para hewan pun begitu?"

Lalu Allah Ta'ala memerintahkan Jibril untuk mengusap lidah para hewan dan jadilah hewan-hewan menjadi tidak bisa bicara, bisu. Walaupun sebenarnya hewan-hewan itu bisa bicara sebelum Adam diturunkan ke bumi.


Menguji Kembali Kesabaran Adam

Saat Nabi Adam menanam benih gandum, seketika itu juga benih itu tumbuh, memiliki tangkai dan hari itu pula berbuah gandum. Kemudian kepada Adam, Jibril mengajarkan untuk menuainya. Maka Adam pun menuai gandum tersebut, dan dengan seksama ia membersihkan biji-biji gandum dari jerami di bantu oleh tiupan angin.

Lalu Adam bertanya kepada Jibril, "Apakah aku boleh memakannya sekarang?"

Jibril menjawab: "Tunggu dulu." Kemudian Jibril membelah dua batu gunung lalu menggiling biji-biji gandum dengan kedua batu itu menjadi lebih halus seperti tepung.

Adam bertanya lagi : "Apakah aku sudah bisa memakannya sekarang?"

Jibril pun menjawab, "Bersabarlah." Lalu Jibril pergi dan mendatangkan sepercik api dari jahanam, kemudian dicelupkan api itu ke ke dalam air sebanyak tujuh kali. Karena jika tidak demikian maka bumi beserta isinya akan terbakar.

Kemudian Jibril mengajarkan Adam cara membuat roti. Setelah menjadi roti, kembali Adam bertanya pada Jibril: "Apakah aku sudah bisa memakannya?".

Jibril menjawab: "Tunggulah sampai matahari terbenam maka jadi sempurna untukmu berpuasa."

Adam adalah manusia yang pertama kali melakukan puasa di muka bumi ini.

Setelah matahari terbenam, Adam meletakkan roti itu dihadapannya lalu Adam mengulurkan tangannya untuk mengambil secuil dari roti tersebut, namun roti tersebut malah bergerak dan jatuh dari atas gunung.

Adam pun mengejarnya menuruni gunung untuk mengambilnya kembali. Kemudian Jibril berkata kepada Adam, "Andaikata kamu mau bersabar maka roti itu akan mendatangimu sendiri tanpa kamu perlu mengejarnya."

Diceritakan bahwa sesungguhnya Adam ketika memakan roti itu, ia lalu menyimpannya hingga malam berikutnya.

Maka Jibril berkata kepadanya: "Andai kamu tidak melakukan itu maka tiada satu pun anak cucumu melakukan simpan menyimpan, maka hal itu akan menjadi kebiasaan anak cucu Adam."


Karena Hak Muhammad, Allah Mengampuni Adam

Diceritakan, ketika Adam menikmati rotinya, ia merasakan haus. Kemudian ia minum air, setelah itu perutnya merasa mual dan melilit.

Saat Jibril mendatanginya, ia langsung mengadu, lalu Jibril menusuk untuk membuat lubang pada duburnya, seketika itu pula Adam mengeluarkan air kencing dan air besar melalui lubang itu.

Ibnu Abbas RA berkata: Ketika Adam lapar, ia lupa kepada Hawa dan teringat kembali saat ia telah merasa kenyang dan suatu hari ia bertanya kepada Jibril, ″Wahai Jibril, apakah Hawa masih hidup atau sudah mati?″

Jibril menjawab, "Ia masih hidup, bahkan keadaannya lebih baik daripada kamu karena dia ada di pantai dan menangkap ikan lalu dibuatnya makan."

Adam berkata, "Wahai Jibril, sungguh aku bermimpi bertemu Hawa pada malam ini."

Jibril berkata, "Wahai Adam, berbahagialah kamu, karena Allah tidak memperlihatkannya padamu kecuali dekat dengan pertemuan."

Ibnu Abbas berkata: "Ketika masa ujian Adam selesai lalu ia bertaubat, maka Allah menerima taubatnya." Yaitu pada firman Allah; "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 37)

Sebagian ulama berkata, Allah memberi ilham kepada Adam, lalu Adam mengatakan, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A’raf : 23).


Dan diceritakan, bahwa Adam berdo’a; “Ya Rabbi, dengan hak Muhammad ampunilah kesalahanku.”

Kemudian Allah menurunkan wahyu; “Bagaimana kamu mengetahui Muhammad padahal belum aku ciptakan?”

Adam menjawab: "Di saat Engkau menciptakan aku, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat di pilar-pilar Arasy ada tulisan "La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah", maka aku mengetahui bahwa Engkau tidak akan mengaitkan nama Engkau kecuali dengan nama seorang mahluk yang engkau cintai.”

Lalu Allah menjawab; "Kamu benar Adam, maka Aku mengampunimu karena kamu berdoa kepada-Ku dengan hak Muhammad.”

Imam Tsa’labi berkata: "Kemudian Allah memberi wahyu kepada Adam; "Berjalanlah dari bumi Hindia menuju Mekkah dan thawaflah mengelilingi Al Bait lalu mintalah ampunan pada-Ku, maka Aku akan mengampuni kesalahanmu."

Diceritakan bahwa Allah menurunkan mutiara merah dari mutiara-mutiara surga sebesar Ka’bah dan itu adalah tempat batu putih yang membuat bumi menjadi panjang, yang didalamnya dijadikan bejana dari emas yang bersinar.

Lalu Allah mengutus malaikat untuk menemani Adam dan menjadi petunjuk serta memandu jalan menuju Mekkah dan diturunkan untuk Adam sebuah tongkat yang panjangnya 20 dziro’ dari pohon ‘garu’, yaitu pohon yang berada di surga.

Di saat Adam berjalan maka bumi menjadi terlipat dan setiap tempat yang terinjak telapak kaki Adam maka jadilah sebuah perkampungan/berpenduduk.

Di saat Adam memasuki Makkah maka Allah memberi wahyu agar Adam melakukan thawaf di Baitullah, lalu Adam melakukan thawaf selama tujuh kali dengan kepala terbuka dan telanjang badan maka hal itu jadi sunnah haji, setelah Adam melakukan hal itu maka Allah telah mengampuni kesalahannya dan menerima taubatnya, maka jadilah thawaf sebagai pelebur dosa.

Diceritakan dari Rasulullah bahwa rasul bersabda: "Sesungguhnya iblis yang laknat berkata; "Ya Rabbi, sungguh perilaku hamba-hamba-Mu sangat aneh, ada yang cinta pada-Mu, ada pula yang mendurhakai-Mu, ada yang benci padaku, ada juga yang taat padaku."

Lalu Allah menjawab; "Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku menjadikan cinta mereka pada-Ku sebagai pelebur untuk taat padamu dan aku menjadikan bencinya mereka padamu sebagai pelebur kemaksiatan pada-Ku."

Wahhab Bin Munabbih berkata: "Saat Adam bertaubat Allah memerintahkan padanya agar keluar menuju tanah Arafah, setelah sampai di bukit Arafah, lalu Adam wukuf/berhenti sejenak/ mengheningkan cipta di sana setelah itu tiba-tiba Hawa ada dihadapannya, lalu mereka berkumpul di bukit itu, maka dari sinilah wukuf di Arafah menjadi kebiasaan haji.”

Dinamakan Arafah karena Adam dan Hawa bertemu disana, kemudian Adam tinggal di Mekkah sebentar, setelah itu mereka pindah menuju bumi Hindia. Diceritakan bahwa sejak turun ke bumi, Adam dan Hawa dipisahkan selama 500 tahun.


jumrahonline | jumrah.com

Siapa Para Penghuni Bumi Sebelum Adam?

Siapa Para Penghuni Bumi Sebelum Adam?
Ibnu 'Abbas RA berkata, "Ketika Allah Ta'ala telah menyempurnakan penciptaan langit dan bumi, mengokohkan gunung-gunung, menggerakkan angin, menciptakan binatang-binatang liar dan berbagai jenis burung di gunung-gunung itu maka buah-buahan mengering berguguran di atas tanah dan kemudian melahirkan rerumputan di permukaan tanah sampai bertumpuk-tumpuk."

Pada saat itulah bumi mengadu kepada Tuhan-nya mengenai hal ini, maka Allah Ta'ala menciptakan darinya umat-umat yang banyak sekali dengan berbagai rupa dan jenis yang berlainan. Mereka adalah para Jin. Allah Ta'ala menciptakan mereka dari angin, kilat dan awan.


Siapa bangsa Jin itu?

Mereka adalah makhluk yang bernafas dan bergerak. Mereka tersebar bagaikan biji sawi karena jumlah mereka yang sangat banyak, sehingga memenuhi tanah datar, gunung dan seluruh wilayah bumi ini. Mereka menghuni permukaan bumi ini dalam jangka waktu yang Allah Ta'ala tentukan.

Diantara mereka ada yang berkulit putih, hitam, merah, kuning, belang dan loreng. Adapula yang tuli dan bisu. Juga ada yang tampan dan yang jelek, ada yang kuat dan yang lemah, ada perempuan dan laki-laki. Mereka kawin dan berketurunan. Mereka disebut Jin karena makhluk-makhluk ini tertutupi atau tersembunyi.

Ketika populasi mereka semakin bertambah sehingga bumi ini menjadi sempit karena jumlah mereka yang banyak, maka penderitaan makhluk-makhluk ini pun bertambah. Kemudian Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka angin topan. Yang pada akhirnya mereka binasa sampai tak tersisa kecuali hanya sebagian kecil dari mereka.

Para Jin ini adalah makhluk pertama yang mendirikan bangunan rumah, membelah bebatuan dan memburu burung-burung dan binatang-binatang liar. Mereka bertahan hidup dengan cara itu bertahun-tahun lamanya. Kemudian mereka saling berselisih sampai saling membunuh satu sama lainnya.

Peperangan mereka bukanlah dengan senjata melainkan dengan cara menahan musuh di dalam rumah sampai mati kelaparan dan kehausan. Ketika kelakuan rusak mereka bertambah parah, maka Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka sekelompok umat yang muncul dari laut. Badan mereka lebih besar dan menakjubkan daripada badan para jin, mereka adalah kaum Bun.

Kaum Bun - Hidup 182,5 Juta Tahun sebelum Adam AS

Kaum Bun adalah penghuni bumi ini selama 500 tahun, mereka menguasai bumi setelah dikuasai oleh kaum Jin. Bila menggunakan Rumus Konversi Waktu: 1 Hari (Akhirat) = 1000 Tahun (Dunia/bumi) atau ekivalen dengan 1 Tahun (akhirat) = ±365.000 Tahun (dunia/bumi). Maka waktu yang tercatat dalam Sejarah bumi adalah = 500 x 365 x 1000 = 182.500.000 tahun. Jadi kaum Bun menjadi penghuni bumi selama 182.500.000 tahun atau 182.5 juta tahun.

Kaum ini memerangi kaum jin sampai binasa dan tak tersisa dari mereka seorang pun. Kemudian mereka kawin dan mempunyai keturunan sampai jumlah mereka bertambah banyak dan memenuhi seluruh tempat di bumi ini. Maka salah seorang dari mereka menyelam ke dalam lapisan bumi yang ketujuh dan tinggal di lapisan bumi ini selama beberapa hari. Tak ada sebongkah tanah pun yang bisa menghalangi mereka.

Kaum ini adalah makhluk pertama yang menggali sumber air, membuat sungai dan mengalirkan air kepadanya dari mata air-mata air dan lautan. Mereka adalah makhluk pertama yang membuat gerobak-gerobak dan jembatan-jembatan di atas sungai, menangkap ikan di laut dan berburu binatang-binatang liar di sarang-sarangnya sehingga binatang-binatang itu punah tak tersisa baik yang berada di daratan maupun lautan.

Maka binatang-binatang ini mengadu kepada Allah Ta'ala mengenai mereka dan parahnya kerusakan yang mereka timbulkan. Maka Allah Ta'ala menciptakan Al Jaan - (kaum jin) atau (Banul Jaan)


Banul Jaan - Hidup 365 juta tahun sebelum Adam AS

Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa yang dimaksud Jan di sini adalah sekumpulan jin yang berjenis kelamin laki-laki. Mereka terbagi dalam beberapa jenis yang beraneka ragam. Diantara mereka ada sekelompok umat yang bernama "Nahabur" dan "Nahamur." Umat-umat jin ini juga makan, minum dan melahirkan keturunan. Diantara mereka ada yang mu′min dan adapula yang kafir. Kakek moyang mereka adalah Iblis terkutuk.

Menurut suatu riwayat bahwa Allah Ta'ala menjadikan para Malaikat sebagai penduduk langit dan para Jin sebagai penduduk bumi. Ketika binatang-binatang liar dan burung-burung merasa terganggu dengan tingkah laku Jin dan Bun maka Allah Ta'ala menciptakan "Jan" sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Setelah menciptakan "Jan", Allah Ta'ala menempatkan mereka di bumi.

Pada saat mereka menghuni bumi berkuranglah populasi Bun sehingga Jan atau Banul Jan dapat mennguasai mereka dan membinasakannya sampai tak tersisa. Maka tinggallah 'Jan' di bumi, mereka kawin dan berketurunan sampai memenuhi bumi ini. Kemudian timbullah perasaan iri dan dengki diantara mereka yang mendatangkan pertumpahan darah. Mereka saling berbuat kekacauan. 


Bumi mengadukan hal ini kepada Allah Ta'ala. Maka pada saat itu, Allah Ta'ala mengirimkan kepada mereka, tentara yang beranggotakan para Malaikat yang disertai oleh Iblis bernama ′Azazil.

'Azazil adalah pimpinan seluruh Malaikat 


Pasukan ini mengusir Jan dari bumi dan mereka lari menuju perbukitan dan tinggal di sana. Ada juga yang mengatakan mereka dihancurkan dengan 'dilempari' dengan batu/meteor hingga berkeping-keping.

Jadilah Iblis merebut bumi dari kekuasaan mereka. Kala itu Iblis masih menyembah kepada Allah Ta'ala, baik ketika ia hidup di bumi dan di langit. Namun selanjutnya, ia merasa takjub pada diri sendiri sehingga kesombongan merasukinya. Maka Allah Ta'ala ingin mencampakkan kesombongan yang ada di dalam hatinya, lalu Allah Ta'ala berfirman, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al Baqarah (2): 30)


Adapun jawaban Malaikat, yang dimaksud "...orang yang akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah." adalah Jin, Bun atau Banul Jan. Mereka ini sesungguhnya telah membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.

Dalam Kitab Qishash al Anbiya′, Ibnu Katsir menyampaikan :
Qatadah mengatakan, "Mereka menyaksikan kehidupan Jin (Jan dan Bun atau dalam kitab Badaiuz Zuhur , Jan disebut Banul Jan) sebelum kehidupan Adam as."


Abdullah bin Umar r.hum. mengatakan, "1.000 (Seribu) tahun sebelum penciptaan Adam AS bangsa jin telah melakukan "pertumpahan darah". Kemudian Allah Azza wa Jalla mengutus sepasukan Malaikat dan kemudian jin-jin itu diusir menuju ke daerah pesisir/samudra."

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu Abbas r.a.dan Al Hasan.
Ada juga yang mengatakan, "Yaitu setelah diperlihatkan kepada para Malaikat (Harut dan Marut) itu isi kitab Lauhul Mahfรปdz." Demikian yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Abu Ja′far Al Baqir. Dan ada juga yang mengatakan, "Karena mereka telah mengetahui bahwasanya tidak diciptakan dari bumi ini melainkan orang yang mempunyai karakter seperti itu."


Selanjutnya : Manis Dan Pahitnya Awal Kehidupan Adam Menjadi Penghuni Bumi

jumrahonline | jumrah.com

Mengapa, Kisah Tentang Musa Banyak Tertulis di Al Quran?

Mengapa, Kisah Tentang Musa Banyak Tertulis di Al Quran?
Mengapa kisah tentang Musa AS banyak berulang di al-Quran? Apa latar belakangnya?

Musa ‘alaihis salam adalah nabi paling mulia di kalangan Bani Israil. Bergelar Kalamullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah di dunia). Dan termasuk salah satu nabi ulul azmi. Dalam al-Quran, perjalanan Musa paling banyak disebutkan oleh Allah, setelah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian yang menghitung, nama Musa disebutkan sebanyak 136 kali dalam al-Quran.

Kisah Musa, Allah sebutkan secara terperinci dalam empat surat, yakni al-Baqarah, al-A'raf, Thaha, dan al-Qashas. Di mata Allah, umat nabi Musa, yakni Bani Israil, adalah umat yang paling afdhal di zamannya. 


Allah berfirman,

ูŠَุง ุจَู†ِูŠ ุฅِุณْุฑَุงุฆِูŠู„َ ุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ู†ِุนْู…َุชِูŠَ ุงู„َّุชِูŠ ุฃَู†ْุนَู…ْุชُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฃَู†ِّูŠ ูَุถَّู„ْุชُูƒُู…ْ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ


"Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat." (QS. al-Baqarah: 47)


Dan perlu dipahami, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari mereka. Karena Allah sebut umat Muhammad sebagai khoiru ummah. Allah berfirman,

ูƒُู†ْุชُู…ْ ุฎَูŠْุฑَ ุฃُู…َّุฉٍ ุฃُุฎْุฑِุฌَุชْ ู„ِู„ู†َّุงุณِ


"Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia." (QS. Ali Imran: 110).

Untuk Direnungkan

Ketika kisah Musa banyak disebutkan dalam al-Quran, menunjukkan bahwa Allah menghendaki agar kita banyak merenungkan perjalanan hidupnya. Mengambil pelajaran tentang bagaimana ujian berat yang dialami Musa. Dari mulai menghadapi Firaun, hingga menghadapi Bani Israil yang keras kepala.

Allah sebut Musa dalam al-Quran, sebagai Nabi yang mendapatkan banyak ujian,

ูˆَูَุชَู†َّุงูƒَ ูُุชُูˆู†ًุง


“Aku akan mengujimu dengan berbagai macam ujian.” (QS. Thaha: 40)

Ujian yang dialami Musa adalah ujian menjalani hidup di tengah masyarakat. Bukan ujian kemiskinan, ujian sakit, atau musibah bencana alam. Yang ujian ini, sangat mirip dengan apa yang akan dialami Rasulullah SAW dan kaum muslimin yang menjadi umatnya.

Said bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, apa yang dimaksud futun (banyak ujian).

Lalu Ibnu Abbas membaca ayat-ayat yang menceritakan Musa dari awal. Beliau sebutkan kisah Firaun, upaya pembantaian yang dia lakukan terhadap bayi lelaki, kemudian kisah Musa dilempar di sungai dan ditemu oleh keluarga Firaun. Kemudian kisah Musa menarik jenggotnya Firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara.


Termasuk kisah dia membunuh orang Mesir, lalu dia lari ke Madyan dan menikah dengan salah satu putri orang tua di Madyan. Kemudian Musa kembali ke Mesir, dan beliau salah jalan di kegelapan malam, hingga beliau melihat api dan mendapat wahyu dari Allah.

Kata Ibnu Zubair,

ูˆูƒุงู† ุนู†ุฏ ุชู…ุงู… ูƒู„ ูˆุงุญุฏุฉ ู…ู†ู‡ุง ูŠู‚ูˆู„ ู‡ุฐุง ู…ู† ุงู„ูุชูˆู† ูŠุง ุงุจู† ุฌุจูŠุฑ

Setelah Ibnu Abbas menyebutkan semuanya,  dia mengatakan, “Inilah fitnah-fitnah itu wahai Ibnu Jubair.” (Tafsir Ibn Katsir, 5/285).

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits, Dewan Pembina Konsultasisyariah.com


jumrahonline | jumrah.com
 

Adalah Ja'far bin Abi Thalib, Pria yang Mirip Rasulullah

Adalah Ja'far bin Abi Thalib, Pria yang Mirip Rasulullah
Ja’far Bin Abi Thalib merupakan satu diantara lima sahabat Rasulullah SAW yang memiliki kemiripan wajah dengan Rasulullah. Namun diantara kelimanya Ja’far tercatat paling mirip dengan Rasulullah. Hingga diriwayatkan, jika dilihat dari belakang, sulit membedakan antara Ja’far dan Rasulullah. Tidak hanya tampilan fisik, karakter Ja’far juga mirip dengan Rasulullah.

Di riwayatkan dari Muhammad bin Usamah bin Zaib bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ja’far, "Bentuk wajahmu serupa dengan wajahku, dan akhlakmu serupa dengan akhlakku karena kamu berasal dariku dan merupakan keturunanku."

Karena kemiripan akhlak dan karakternya inilah Ja’far bin Abi thalib mudah menerima Islam saat diterangkan dengan sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia tercatat menjadi orang ke-31 yang memeluk Islam.


Bagaimanakah perjalanan seorang Ja'far bin Abi Thalib dan apa sajakah pengaruh beliau dalam agama Islam?

Ja’far yang adalah sepupu Rasulullah ini langsung menyatakan keislamannya begitu mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT. Putra Abu Thalib ini kemudian menyampaikan keislamannya kepada Asma bin Umais. Ja’far pun lalu mengajak istrinya untuk kemudian masuk Islam. Ia begitu yakin bahwa mengikuti ajaran Islam akan membawanya pada kebaikan dunia dan akhirat.

Kelembutan serta kecerdasan seorang Ja'far bin Abi Thalib berhasil mengantarkan istrinya Asma bin Umais ke jalan yang hidayah, hingga nanti disepanjang jalan hidupnya, keduanya bersama-sama mengarungi pahit manis sebagai seorang muslim yang bertakwa.

Meski kebahagiaan Islam telah menyelimuti hatinya, namun kebahagian kakak Ali Bin Abi Thalib ini belum utuh. Sebab sang ayah yang sangat dicintainya, Abu Thalib enggan mengikuti kebenaran yang dibawa keponakannya, Muhammad. Padahal Ia selalu dibarisan terdepan membela Rasulullah dari kedengkian kaum Quraisy. Hanya doalah yang bisa dipanjatkan Ja’far bin Abi Thalib agar ayah mau membuka hatinya menerima hidayah Islam.

Maka ketika Islam semakin menyebar di Kota Mekah kaum Quraisy semakin marah dan tidak terima. Mereka bersekongkol membuat banyak cara untuk menjatuhkan Islam serta melemahkan iman kaum Muslimin. Maka ketika Quraisy tidak bisa menghalangi dakwah Rasulullah lantaran mendapatkan pembelaan dari keluarga besarnya, mereka pun mulai melampiaskan amarah dengan menyiksa kaum miskin dan lemah.

Tapi siksaan demi siksaan yang diterima kaum muslimin justru membuat iman mereka semakin kokoh dan kebal. Demikia kejam siksaan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin, hingga keinginan melawan semakin besar, termasuk Ja’far Bin Abi Thalib. Ia begitu kesal dengan perlakuan kaumnya tapi Ia begitu tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin untuk melawan dan hanya meminta agar bersabar.


Ja'far Memimpin Hijrah ke Habasyah

Disaat kekejaman kaum Quraisy memuncak Rasulullah SAW meminta agar kaum muslimin hijrah ke negeri Habasyah, negeri yang dipimpin Raja Najashi, seorang Raja Nasrani yang adil dan tidak pernah berbuat dzalim.

Rasulullah memilih Ja'far Bin Abi Thalib memimpin kaum muslimin hijrah menyelamatkan akidahnya ke negeri Habasyah. Rasulullah SAW begitu mengenal Ja'far seperti mengenal dirinya sendiri. Ja'far diplih karena memiliki kecerdasan, keberanian sekaligus ketenangan semuanya itu semakin didukung karena Ia memiliki kemiripan dengan Rasulullah. Sehingga menjadi pelipur lara bagi kaum muslimin bila jauh dari nabi mereka.

Benar saja, di negeri Habasyah muslimin bisa hidup nyaman tanpa harus terganggu saat beribadah. Namun kabar hijrahnya 100 kaum muslimin ke negeri Habasyah membuat kaum musrik Quraisy makin tidak suka. Mereka tidak tenang, pengikut
Rasulullah beribadah dengan nyaman disana. Mereka kemudian berencana untuk memulangkan kaum muslimin ke Mekkah. Mereka mengutus Amar Bin Ash, pemuda Quraisy yang dikenal paling piawai berdiplomasi dan dekat dengan Raja Najashi

Sambil membawa hadiah dari kaum Quraisy untuk dipersembahkan kepada Raja Habasyah, Amr Bin Ash begitu yakin raja akan mengembalikan kaum muslimin ke Mekah. Di hadapan Raja Najashi yang beragama Nasrani, Amr Bin Ash mulai bersilat lidah. Amar membujuk raja bahwa agama Islam yang dianut oleh penduduk Mekah yang hijrah ke Habasyah berbeda dengan Nasrani, bahkan agama yang dibawa Muhammad ini dituduh memandang buruk terhadap agama Nasrani.

Raja Habasyah yang begitu kokoh imannya pada Nasrani sangat marah. Namun Ia tidak langsung mengusir kaum muslimin. Di sinilah kebenaran hadist Nabi tentang keadilan Raja Najashi terbukti. Raja Nasrani yang shaleh ini tidak mau bertindak sebelum mendengar langsung dari kaum Muslimin yang tinggal di negerinya.

Lalu Ja’far maju menjelaskan tentang Islam mewakili umat Islam dan mengapa Ia datang ke negeri Habasyah. Dengan tutur kata yang amat baik serta jujur apa adanya pernyataan Ja’far justru mengundang simpati raja.


Bahkan Ja’far menjelaskan tentang ajaran Islam, tentang Maryam dan Al Masih yang dituturkan Al-Qur’an. Mendengar itu Raja Najashi bergetar hatinya tidak kuasa menahan haru. Apa yang disampaikan Ja’far dan ajaran Nasrani yang Ia yakini berasal dari satu sumber yang sama. Maka saat itu pula, Najashi menjamin keamanan kaum Muslimin di Habasyah.

Menurut beberapa sumber, Raja Najashi memeluk Islam, namun tetap merahasiakannya kepada rakyatnya. Tidak hanya itu, murid-murid Ja’far di Habsyah kemudian menyebarkan ajaran tauhid disana hingga Islam mulai tersebar di negeri Habasyah.

Di negeri hijrah pertamanya itu, Asma, istri Ja’far melahirkan putra pertama mereka dan diberi nama Abdullah. Sebuah nama yang menujukan keislaman seseorang sebagai hamba yang hanya mengabdi kepada Allah. Kelahiran putra Ja’far disambut bahagia oleh Najashi. Raja memberinya hadiah, sang raja pun menamainya dengan nama yang serupa dengan putra Ja’far.


Ja'far di Medan Pertempuran Melawan Tentara Romawi

Selama tujuh tahun di negeri Habasyah, Ja’far dan kaum muslimin begitu merindukan Rasulullah. Sebuah kabar datang membuat hati Ja’far hancur, Abu Thalib, sang ayah yang amat dicintainya wafat dalam keadaan tidak beriman.

Di lain pihak, kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang pada perang Haibar, Jafar Bin Abi Thalib meninggalkan Habasyah menuju Madinah. Kedatangannya begitu membahagiakan Rasulullah, hingga Nabi sendiri tidak menyadari kebahagiaan yang dirasakannya apakah karena kemenangannya dalam perang Haibar, atau karena kedatangan Ja’far.

Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah pada awal tahun 8 Hijriyah, Rasulullah menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Mut’ah. Rasulullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima.


Rasulullah bersabda, "Kalau Zaid terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Ja’far bin Abi Thalib. Jika ia terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah terbunuh, maka biarlah kaum muslimin memilih bagi mereka sendiri." 

Kemudian Rasulullah memberikan bendera berwarna putih kepada Zaid bin Hartisah.

Berangkatlah pasukan ini. Ketika telah sampai di daerah Mu’tah
sebuah kota dekat Syam daerah Yordania, mereka mendapati pasukan Romawi telah siap dengan jumlah sebanyak 200 ribu tentara yang terlatih. Diperkuat dengan 1000 milisi Nasrani dari kabilah-kabilah Arab. Jumlah sebegitu besar tidak pernah ditemui oleh kaum muslimin sebelumnya. Sementara tentara kaum muslimin yang dipimpin oleh Zait Bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.

Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang ini bertemu dan pertempuran dahsyat pun terjadi. Panglima Muslimin, Zaid Bin Haritsah gugur dalam pertempuran sebagai syuhada, melihat Zaid jatuh tersungkur, Ja’far kemudian bergegas melompat dan mengambil alih bendera Rasulullah dari tangan Zaid. 


Lalu diacungkan dengan tinggi-tinggi dan kini pimpinan beralih kepadanya. Ja’far menyusup ke dalam barisan musuh seraya mengayunkan pedang ditengah musuh yang mengepungnya. Dia menyerang musuh yang datang dari kanan dan kiri dengan sekuat tenaga sambil melantunkan syair:

"Wahai… alangkah dekatnya surga
Yang sangat lezat dan dingin minumannya
Romawi yang telah dekat kehancurannya
Wajib bagiku menghancurkannya 

apabila menemuinya..."
 

Hingga suatu ketika sebuah tebasan pedang mengenai tangan kanannya, maka tangan kirinya langsung mengambil bendera dari tangan kanannya yang tertebas pedang, tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Tapi Ia tidak gentar dan putus asa, dipeluknya bendera Rasulullah dengan kedua lengannya dengan terus menerjang musuh hingga akhirnya tubuh Ja’far ditebas musuh hingga gugur sebagai syuhada di pertempuran Mut’ah itu.

Rasulullah sangat sedih mendengar kabar gugurnya Jafar, dan pergi ke rumah Ja’far di dapatinya Asma, istri Ja’far yang sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya, memandikan dan memakaikan baju bersih kepada anak-anaknya. Asma sendiri menuturkan kedatangan Rasulullah.

"Ketika Rasulullah mengujungi kami, terlihat wajah Rasulullah diselubungi kabut sedih, hatiku cemas tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk, beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami.”

Asma kemudian memanggil mereka semua, dan disuruhnya menemuii Rasulullah. Anak-anak Ja’far kemudian melompat kegirangan mengetahui kedatangan Beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman dengan Rasulullah. Rasulullah langsung memeluk erat anak-anak Ja’far sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata Rasulullah berlinang membasahi pipi mereka.

jumrahonline

Sejarah Dakwah Rasulullah SAW periode Mekkah

Sejarah Dakwah Muhammad Periode Mekkah
Masyarakat Arab Jahiliyah Periode Mekkah

Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, atau masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Kebodohan masyarakat Arab waktu itu, terdapat dalam bidang agama, moral dan hukum. (Baca: Sejarah Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah)


Dalam keagamaan, umumnya masyarakat Arab kala itu sudah menyimpang jauh dari ajaran agama Tauhid, yang telah diajarkan oleh para Rasul terdahulu, seperti Ibrahim AS. Mereka umumnya beragama Watsani atau agama menyembah berhala, berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan di Ka’bah yang jumlahnya mencapai 300 lebih. Diantara berhala-berhala yang termashur adalah; Hubal, Khuza’ah, Lata, Uzza dan Manat.
       
Selain itu ada pula sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang menyembah malaikat dan bintang yang dilakukan kaum Sabi’in serta menyembah matahari, bulan, dan jin yang diperbuat oleh sebagian masyarakat diluar kota Mekkah, dalam bidang moral, masyarakat Arab Jahiliyah telah menempuh cara-cara yang sesat seperti :

- Bila terjadi peperangan antar kabilah, maka kabilah yang kalah perang akan dijadikan budak oleh kabilah yang menang perang.
- Menempatkan perempuan pada kedudukan rendah. Dalam masyarakat Arab Jahiliyah perempuan tidak berhak mewarisi harta peninggalan suaminya, ayahnya, atau anggota keluarga yang lain. Bahkan seorang wanita  (istri) boleh diwarisi oleh anak tirinya atau anggota keluarga lain dari suaminya yang telah mati.
- Memiliki kebiasaan buruk, yakni berjudi dan minum-minumman keras. Kejahiliyahan mereka dalam bidang hukum antara lain anggapan mereka bahwa judi, bermabuk-mabukkan, berzina, mencuri, merampok dan membunuh, bukan perbuatan yang salah.

Namun tidak semua perilaku masyarakat Arab Jahiliyah itu buruk, mereka memiliki keberanian dan kepahlawanan suka menghormati tamu, murah hati dan mempunyai harga diri, juga dalam bidang perdagangan ada sebagian  masyarakat Arab Jahiliyah yang sudah memiliki kemajuan, misalnya, para pedagang dari kabilah Quraisy.


Berdagang pada musim panas ke negeri Syam (sekarang Suriah, Libanon, Palestina dan Yordania) dan pada musim dingin ke Yaman (lihat Q;S Quraisy, 106: 1-4). Mereka berdagang bulu domba, unta, kulit binatang dan tali.

Pengangkatan Muhammad sebagai Rasul

Allah Ta'ala yang pengasih lagi penyayang tidak membiarkan umat manusia, khususnya masyarakat Arab (saat itu) berada dalam kebodohan sepanjang zaman. Lalu Dia mengutus seorang nabi dan rasul-Nya yang terakhir yakni Muhammad. Pengangakatan Muhammad sebagai Rasul, terjadi pada 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah (610 M) tatkala Muhammad sedang bertahanus di Gua Hira. Saat itu Muhammad berusia 40 tahun. Gua Hira terletak di Jabal Nur, beberapa kilo meter sebelah utara kota Makkah dan berada di lerengnya (kira-kira berjarak 20 m dari puncaknya).

Pengangkatan Muhammad sebagai Rasulullah ditandai dengan turunnya malaikat Jibril pada 17 Ramadhan 610 M, untuk menyampaikan wahyu yang pertama yakni Al-Qur’an pertama, dalam sejarah Islam dinamakan Nuzul Al-Qur’an (Nuzulul Qur'an)

Setibanya di rumah, Muhammad menceritakan kepada istrinya, Khadijah, peristiwa yang dialaminya. Sebenarnya Khadijah mempercayai segala apa yang diceritakan suaminya, tetapi ia ingin mengetahui bagaimana pendapat Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya terhadap peristiwa yang dialami suaminya itu. Waraqah adalah seorang pemikir yang telah berusia lanjut beragama Nasrani, yang telah menyalin kitab injil dari bahasaIbrani kedalam bahasa Arab.

Setelah Waraqah bin Naufal mengetahui semua peristiwa yang dialami oleh Muhammad, ia berkata, "Itu adalah Namus (Jibril) yang pernah datang kepada Isa AS. Alangkah baiknya kalau aku masih muda dan masih hidup sewaktu kamu diusir oleh kaummu, "Muhammad berkata. “Apakah kaumku akan mengusirku? Jawab Waraqah, "Ya, tidak seorangpun datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa (ajaran Islam), yang tidak dimusuhi, jika sekiranya aku masih hidup pada masa itu, tentu aku akan menolongmu dengan sekuat tenagaku." (H.R. Ahmad, Al-Qur’an Bukhari dan Muslim).

Strategi Dakwah Rasulullah Periode Mekkah


Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekkah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan akhlaq jahiliyah, moral dan hukum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan Muhammad dan ajaran Islam yang disampaikannya, untuk diamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat Arab telah mengamalkan seluruh ajaran Islam dengan niat ikhlas karena Allah SWT tentu akan memperoleh keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Strategi dakwah Rasulullah dalam berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai berikut:

1. Dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3-4 tahun. Cara ini ditempuh oleh Rasulullah karena yakin bahwa masyarakat Arab Jahiliyah masih sangat kuat mempertahankan kepercayaan dan tradisi warisan leluhur mereka, sehingga mereka bersedia berperang dan rela mati dalam mempertahankannya.


Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, pusat dakwah Rasulullah difokuskan di rumah Arqam bin Abi Arqam.Orang orang yang mula mula masuk Islam pada periode Makkah ini dikenal dengan istilah as-Sabiqunal Awwalun.

2. Dakwah secara terang-terangan

Dakwah terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an surah 26: 214-216 (coba kamu cari dan pelajari).

Tahap-tahap dakwah Rasulullah secara terang-terangan ini dilakukan dengan beberapa cara antara lain sebagai berikut:
 

a. Mengundang kaum kerabat keturunan dari bani Hasyim untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak mereka agar masuk Islam. Tapi karena cahaya Hidayah Allah SWT waktu itu belum menyinari hari mereka, mereka belum menerima Islam sebagai agama mereka. Namun ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sebenarnya sudah masuk Islam, tapi merahasiakan keislamannya, pada waktu itu dengan tegas menyatakan keislamannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Jahiliyah’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

b. Rasulullah mengumpulkan penduduk kota Makkah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Syafa, yang letaknya tidak jauh dari Ka’bah.

Rasulullah memberikan peringatan kepada semua yang hadir agar segera meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala dan hanya menyembah atau menghambakan dirinya kepada Allah SWT, Yang Maha Esa, pencipta dan pemelihara alam semesta. Rasulullah juga  menegaskan, jika peringatan yang disampaikannya itu dilaksanakan tentu akan meraih ridha Illahi bahagia di dunia dan akhirat. Tetapi apabila peringatan itu diabaikan tentu akan mendapat murka Allah Ta'ala, sengsara di dunia dan akhirat.

Menanggapi dakwah Rasulullah tersebut diantara yang hadir ada kelompok yang menolak disertai teriakan dan ejekan. Ada kelompok yang diam saja lalu pulang. Bahkan Abu Lahab, bukan hanya mengejek, tetapi berteriak-teriak bahwa Muhammad orang gila, seraya ia berkata "Celakalah engkau Muhammad, untuk inikah engkau mengumpulkan kami?" sebagai balasan terhadap kutukan Abu Lahab itu turunlah ayat Al-Qur’an yakni berisi kutukan Allah SWT terhadap Abu Lahab, 111: 1-5.

 
Pada periode dakwah secara terang-terangan ini juga telah menyatakan diri masuk Islam dua orang yang kuat dari kalangan kaum Quraisy, yaitu: Hamzah bin Abdul Muthalib (paman nabi SAW), dan Umar bin Khatab, Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam pada tahun ke-6 dari kenabian, sedang Umar bin Khatab (581-644 M), tidak lama setelah sebagian kaum Muslimin berhijrah ke Habsyah atau Ethiopia pada tahun 615M.

c. Rasulullah menyampaikan seruan dakwahnya kepada penduduk di luar kota Mekkah, sejarah mencatat bahwa penduduk di luar Mekkah yang masuk Islam antara lain:
 

- Abu Zar Al-Giffari, seorang tokoh dari kaum Giffar, yang bertempat tinggal disebelah barat laut Mekah atau tidak jauh dari laut Merah, menyatakan diri dihadapan Rasulullah SAW masuk Islam. Keislamannya itu kemudian diikuti oleh kaumnya.

- Tufail bin Amr Ad-Dausi, seorang penyair terpandang dari kaum Daus yang bertempat tinggal di wilayah barat kota Mekah, menyatakan diri masuk Islam dihadapan Rasulullah SAW, keislamannya itu diikuti oleh bapak, istri, keluarganya serta kaumnya.


- Dakwah Rasulullah terhadap penduduk Yatsrip (Madinah) yang datang ke Mekkah untuk berziarah nampak berhasil. Berkat hidayah Allah SWT, para penduduk Yatsrip, secara bergelombang telah masuk Islam dihadapan Rasulullah. 


Gelombang pertama tahun 620 M telah masuk Islam dari suku Aus dan Khazraj sebanyak 6 orang. Gelombang kedua 621 M, sebanyak 13 orang dan pada gelombang ketiga tahun berikutnya lebih banyak lagi, yakni 73 orang diantaranya 2 orang perempuan.
 
Pada gelombang ketiga ini telah datang ke Mekkah untuk berziarah dan menemui Rasulullah, penduduk berasal dari Yatsrip. Waktu itu ikut pula berziarah ke Mekkah, orang-orang Yatsrip yang belum masuk Islam. Diantaranya Abu Jabir Abdullah bin Amr, pimpinan kaum Salamah, yang kemudian, menyatakan diri masuk Islam dihadapan Rasulullah.

Pertemuan umat Yatsrip dengan Rasulullah ini, terjadi pada tahun ke 13 dari kenabian dan menghasilkan Bai’atul Aqabah, isi Bai’atul aqabah tersebut merupakan peryataan umat Islam Yatsrip bahwa mereka akan melindungi dan membela Rasulullah, walaupun untuk itu mereka harus mengorbankan tenaga, harta, bahkan jiwa, selain itu mereka meminta kepada Rasulullah dan para pengikutnya agar berhijrah ke Yatsrip.

Setelah terjadi peristiwa Bai’atul Aqabah itu, kemudian Rasulullah menyuruh para sahabatnya yakni orang-orang Islam yang bertempat tinggal di Mekkah, untuk segera berhijrah ke Yatsrip. Para sahabat Rasulullah melaksanakan suruhan Rasulullah tersebut. Mereka berhijrah ke Yatsrip secara diam-diam dan sedikit demi sedikit, sehingga dalam waktu dua bulan umat Islam Mekkah telah berhijrah ke Yatsrip.

Sedangkan
Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, dan Ali bin Abu Thalib masih tetap tinggal di Mekkah, menunggu perintah dari Allah SWT untuk berhijrah. Setelah datang perintah dari Allah SWT kemudian Rasulullah berhijrah bersama Bakar Ash-Shiddiq ra meninggalkan kota Mekkah tempat kelahirannya menuju Yatsrip. 

Peristiwa hijrah Rasulullah SAW ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 1 hijrah (622M)

Sedangkan Ali bin Abu Thalib, tidak ikut berhijrah bersama Rasulullah, karena ia ditugaskan oleh Rasulullah untuk mengembalikan barang-barang orang lain yang dititipkan kepadanya, setelah perintah Rasulullah itu dilaksanakan kemudian Ali bin Abu Thalib berhijrah menyusul Rasulullah ke Yatsrip.

Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW


Kaum Quraisy menolak dakwah Rasulullah SAW, setelah berdakwah itu dilakukan secara terang-terangan, yakni semjak tahun ke-4 kenabian, Prof.Dr.A Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab kaum Kafir Quraisy menentang dakwah Rasulullah, yakni:

a. Rasulullah mengajarkan tentang adanya persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mulia tidaknya seseorang tergantung ketakwaannya kepada Allah SWT. Orang miskin yang bertkawa, dihadapan Allah SWT lebih mulia dari pada orang kaya yang durhaka (lihat Q.S Al-Hujurat, 49:13).
Kaum kafir Quraisy terutama para bangsawan sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak ini, mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat, mereka ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.

b. Islam mengajarkan adanya kehidupan sesudah mati, yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat. Manusia yang ketika di dunianya bertakwa, maka di alam kuburnya akan memperoleh kenikmatandan di alam akhiratnya akan masuk surga. Sedangkan manusia yang ketika didunianya durhaka dan banyak berbuat dosa, maka di alam kuburnya akan di siksa, dan di alam akhiratnya akan masuk neraka.


Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam tersebut, karena mareka merasa ngeri dengan siksaan kubur dan azab neraka.

c. Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidup bermasyarakat warisan leluhur mereka, mereka berkata "cukuplah bagi kami apa yang telah kami terima dari nenek moyang kami” (Q.S Al-Mai’dah, 5: 104).

d. Islam melarang menyembah berhala, memperjual belikan berhala-berhala, dan melarang penduduk Mekah dan luar Mekah berziarah memuja berhala, padahal itu semua mendatangkan keuntungan ekonomi terhadap kaum kafir Quraisy. Oleh karena itulah mereka menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah.


Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah bermacam-macam antara lain:

- Para budak yang telah masuk Islam, seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-Nahdiah, dan anaknya al-Muammil dan az-zanirah disiksa oleh para pemiliknya atau tuannya dibatas peri kemanusiaan. Bahkan Az-zanirah disiksa hingga mengalami kebutaan dan Ummu Amr binti Yasit, budak milik bani makhzum disiksa oleh tuannya sampai mati.

Abu Bakar As-siddiq tidak tega melihat saudara-saudaranya seiman disiksa seperti itu, lalu beliau memerdekakan beberapa orang dari mereka termasuk Bilal, dengan cara memberikan uang tembusan kepada tuannya.


- Setiap keluarga dari kalangan kaum kafir Quraisy diharuskan untuk menyiksa keluarganya yang telah masuk Islam, sehingga ia kembali menganut agama keluarganya (agama watsani).

-
Rasulullah sendiri dilempari kotoran oleh Ummu Jamil (istri Abu Lahab) dan dilempari isi perut kambing oleh Abu Jahal, nama asli Abu jahal adalah Umar Abu al-hakam yang artinya Amr Bapak juru damai. Umat Islam mengganti nama itu manjadi Abu Jahal yang artinya Bapak kebodohan.

- Kaum kafir Quraisy meminta Abu Thalib paman pelindung Rasulullah, agar Rasulullah menghentikan dakwahnya. Namun kala Abu Thalib menyampaikan keinginan kaum kafir Quraisy tersebut Rasulullah bersabda; "wahai pamanku demi Allah, biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah agama Allah, hingga aku menang atau aku binasa karenanya."

- Kaum kafir Quraisy mengusulkan pada Muhammad agar permusuhan diantara mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Disaat lain umat Islam menganut agama kaum kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala.

Usul tersebut ditolak oleh Muhammad, karena menurut ajaran Islam mencampur adukkan akidah dan ibadah Islam dengan akidah dan ibadah bukan Islam termasuk perbuatan haram dan merupakan dosa besar. (terkait Q.S Al kafirun, 109: 1-6).

Menghadapi tantangan keras kaum kafir Quraisy, Muhammad bersabar, bertawakal dan berdo’a, beliau menyuruh 16 orang sahabatnya, termasuk Ustman bin Affan dan 4 orang wanita untuk berhijrah ke Habsyah (Ethiopia), karena raja Negus di negeri itu suka memberikan jaminan keamanan kepada orang-orang yang meminta perlindungan kepadanya. Peristiwa hijrah yang pertama ke Habsyah terjadi pada tahun 615 M.

Suatu saat, ke 16 orang yang hijrah ke Habsyah ini kembali ke Mekkah, karena mereka menduga Mekkah keadaannya sudah normal dengan masuk Islamnya seorang bangsawan Quraisy yang gagah berani yakni Umar bin Khatab. Namun dugaan mereka meleset, karena ternyata Abu Jahal, pimpinan kaum Quraisy memerintahkan agar setiap keluarga dari kabilah Quraisy meningkatkan tekanan dan siksaan terhadap anggota keluarganya yang masuk Islam.

Menghadapi situasi yang demikian, akhirnya Rasulullah meminta para sahabatnya, untuk yang kedua kalinya agar kembali hijrah ke Habsyah. Jumlah para sahabat yang berhijrah pada saat itu sebanyak 83 orang laki-laki dan 18 orang wanita, dibawah pimpinan Ja’far bin Abu Thalib. Di negeri Habasyah ini selain memperoleh jaminan keamanan dari Raja Negus, para sahabat juga memiliki kebebasan melaksanakan ibadah. (Baca: Adalah Ja'far Bin Abu Thalib, Pria yang Mirip Rasulullah)

Pada tahun ke 10 dari kenabian (619 M) Abu Thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat dalam usia 87 tahun. Empat hari setelah itu istri tercintanya Khadijah juga wafat dalam usia 65 tahun. Dalam sejarah Islam tahun ini wafatnya Abu Thalib dan Khadijah disebut ‘Amul Huzni (tahun duka cita).

Wafatnya Abu Thalib sebagai pemimpin Bani Hasyim, menyebabkan Abu Lahab seorang kafir yang sangat keras dalam memusuhi Muhammad, menggantikan kedudukan Abu Thalib sebagai pemimpin. Semenjak itu Rasulullah tidak memperoleh perlindungan dari kaum kerabatnya yakni Bani Hasyim.

Allah SWT senantiasa melindungi Muhammad dari berbagai kesulitan. Tidak lama Bani Hasyim pimpinan Abu Lahab, Mut’im bin Adi pemimpin kaum Naufal menyatakan perlindungannya terhadap Nabi SAW. Bahkan menjelang peristiwa hijrah tahun 622 M, umat Islam Yatsrib telah bersumpah setia akan melindungi
Muhammad beserta para pengikutnya.

Sejarah Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah

Sejarah Dakwah Rasulullah priode Madinah
Arti Hijrah dan Tujuan Rasulullah SAW dan umat Islam Berhijrah

Ada dua macam arti hijrah, Pertama, Hijrah berarti meninggalkan semua perbuatan yang dilarang dan dimurkai Allah SWT untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, yang disuruh Allah SWT dan di ridhoi-Nya. (Baca : Sejarah Dakwah Rasulullah SAW periode Mekkah)


Artinya hijrah dalam pengertian pertama ini wajib dilaksanakan oleh setiap umat Islam, Rasulullah bersabda :
 

"Orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala apa yang dilarang Allah SWT. (H.R. Bukhari)
 
Arti kedua dari hijrah ialah berpindah dari suatu negeri kafir (non-Islam), karena di negeri umat Islam selalu mendapatkan tekanan, ancaman dan kekerasan sehingga tidak memiliki kebebasan dalam berdakwah dan beribadah. Kemudian umat Islam di Negeri kafir itu, berpindah ke negeri Islam agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam bertakwa dan beribadah.

Arti kedua dari hijrah ini pernah dipraktekan oleh Rasulullah SAW dan umat Islam, yakni berhijrah dari Mekah ke Yatsrib pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama Hijrah, bertepatan dengan tanggal 28 Juni 622 M.

Tujuan Hijrahnya Rasulullah dan umat Islam dari Mekkah (negeri kafir) ke Yatsrib (Negeri Islam) adalah :

 
- Menyelamatkan umat Islam dari tekanan, ancaman, dan kekerasan kaum kafir Quraisy.
- Agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam berdakwah serta beribadah, sehingga dapat meningkatkan usaha-usahanya dalam berjihad di jalan Allah SWT, untuk menegakkan dan meninggikan agama-Nya (Islam) (terkait Q.S An-Nahl, 16: 41-42).


Dakwah Rasulullah Periode Madinah           

Dakwah Rasulullah periode Madinah  berlangsung selama 10 tahun yakni dari semenjak tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama Hijrah sampi dengan wafatnya Rasulullah, tanggal 13 Rabiul Awl tahun ke 11 Hijrah.

Mengenai objek dakwah Rasulullah pada peiode Madinah adalah orang-orang yang sudah masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar. Juga orang-orang yang masuk Islam seperti kaum Yahudi penduduk Madinah, para penduduk di luar kota Madinah yang termasuk bangsa Arab, dan yang tidak termasuk bangsa Arab.
        
Tujuan dakwah Rasulullah yang luhur dan cara penyampaiannya yang terpuji, menyebabkan umat manusia yang belum masuk Islam banyak yang masuk Islam dengan kemauan dan kesadaran sendiri.


Namun tidak sedikit pula orang kafir yang tidak bersedia masuk Islam, bahkan mereka berusaha menghalang-halangi orang lain masuk Islam dan juga berusaha melenyapkan agama Islam dan umatnya dari muka bumi. Mereka itu seperti kaum kafir Quraisy penduduk Mekah, dan sekutu-sekutu mereka.
        
Setelah ada izin dari Allah SWT untuk berperang, sebagaimana firmannya dalam surat Al-Hajj 22:39 dan Al-Baqarah, 2: 190, maka kemudian Rasulullah Saw dan para sahabatnya menyusun kekuatan untuk menghadapi perperangan dengan orang kafir yang tidak dapat dihindarkan lagi.
      
Perperangan-perperangan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para pengikutnya itu tidaklah bertujuan untuk melakukan penjajahan atau meraih harta rampasan perang, tetapi untuk:


- Membela diri, kehormatan, dan harta
- Menjamin kelancaran dakwah, dan memberi kesempatan kepada mereka yang hendak menganutnya
- Untuk memelihara umat Islam agar tidak dihancurkan oleh bala tentara Persia dan Romawi.

Setelah Rasulullah dan para pengikutnya mampu membangun suatu Negara yang mardeka dan berdaulat, yang berpusat di Madinah, mereka berusaha menyiarkan dan memasyurkan agama Islam, bukan saja terhadap para penduduk jazirah Arabia, tetapi juga ke luar jazirah Arabia, maka bangsa Romawi dan Persia menjadi cemas dan khawatir kekuasaan mereka akan tersaingi.


Oleh karena itu bangsa Romawi dan bangsa Persia bertekad untuk menumpas dan menghancurkan umat Islam dan agamanya. Untuk menghadapi tekad bangsa Romawi dan Persia tersebut, Rasulullah dan pengikutnya tidak tinggal diam sehingga terjadi perperangan antara umat Islam dengan bangsa Romawi, yaitu pertama perang Mut'ah pada tahun 8 H, di dekat desa Mut’ah bagian utara jazirah Arabiah dan kedua perang Tabuk pada tahun 9 H di kota Tabuk, bagian utara jazirah Arabia. Sedangkan bangsa Persia selalu mengadakan penyerangan kepada wilayah kekuasaan umat Islam.

Perang lainnya yang dilakukan pada masa Rasulullah seperti :

1. Perang Badar Al-Kubra, terjadi pada tanggal 17 Rahmadan tahun 2 H di sebuah tempat dekat perigi Badar, yang letaknya antara Mekah dan Madinah. Perperangan ini terjadi antara Rasulullah dan para pengikutnya dengan kaum kafir Quraisy yang telah mengusir kaum Muslimin penduduk Mekah untuk pindah ke Madinah dengan meninggalkan rumah dan harta bendanya. Mereka masih tetap bertekat untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin di Madinah. Dalam perang Badar ini kaum Muslimin memperoleh kemenangan yang gialang gemilang.

2. Perang Uhud, terjadi pertengahan Sya’ban tahun 3
Hijriyah, pada perperangan kaum Muslimin mengalami kekalahan.

3. Perang Ahzab (Khandak), terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriyah, ahzab artinya golongan-golongan, yaitu gabungan kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi, Bani Salim, Bani Asad, Gathfan, Bani Murrah, dan Bani Asyyja, sehingga berjumlah 10.000 lebih.

Pasukan ahzab ini menyerbu Madinah untuk menumpas Islam dan umat Islam. Atas inisiatif dari Salman Al-Farizi, untuk mempertahankan kota Madinah dibuat parit yang dalam dan lebar. Berkat inisiatif itu, kekompakan umat Islam dan pertolongan Allah SWT, dalam perang ini umat Islam memperoleh kemenangan.

Pada tahun keenam hijriyah Rasulullah dan para pengikutnya umat Islam penduduk Madinah yang berjumlah 1000 orang berangkat menuju Mekah untuk melakukian Umrah, agar kaum kafir Quraisy tidak menduga bahwa kedatangan kaum Muslimin ke Mekah itu untuk memerangi mereka maka jauh sebelum mendekati kota Mekah umat Islam sudah mengenakan pakaian Ihran, tidak membawa alat-lat perang, kecuali pedang dalam sarungnya, sekedar untuk menjaga diri di perjalanan. 


Rombongan kaum Muslimin tiba disuatu tempat yang bernama "Al-Hudaibiyah", yang letaknya beberapa kilometer dari kota Mekah, dengan maksud selain untuk beristirahat, juga melihat situasi.

Sebenarnya saat itu termasuk bulan yang sucikan oleh bangsa Arab sebelum Islam. Mereka dilarang melakukan perperangan didalamnya. Namun dalam kenyataanya, kaum kafir Quraisy telah menempatkan sejumlah bala tentaranya yang cukup besar di perbatasan kota Mekah, siap untuk melakukan perperangan.

Membaca situasi yang demikian, kemudian Rasulullah mengutus sahabat Usman bin Affan memasuki kota Mekah untuk menemui pimpinan kaum kafir Quraisy dan menjelaskan kepadanya, bahwa kedatangan mereka ke Mekah bukan untuk berperang, tetapi semata-mata untuk melakukan ibadah umrah.

Namun kaum kafir Quraisy bersikeras tidak mengizinkan kaum Muslimin memasuki kota Mekah, dengan alasan akan menjatuhkan wibawa kaum kafir Quraisy pada pandangan bangsa Arab. Sahabat  Usman bin Affan ditahan oleh kaum kafir Quraisy bahkan tersiar kabar bahwa beliau telah dibunuh.

Menyikapi kabar tersebut kaum Muslimin telah bersepakat mengadakan "sumpah setia" (bai'at), untuk berperang melawan kafir Quraisy, sampai meraih kemenangan, sumpah setia itu disebut “Baiatu Ridwan”.

Untung di saat genting seperti itu sahabat Utsman bin Affan muncul membawa berita akan diadakannya perundingan antara kaum kafir Quraisy dengan kaum Muslimin. Maka terjadilah perundingan antara delegasi kaum kafir Quraisy yang dipimpin oleh Suhail Ibnu Umar dan delegasi umat Islam dipimpin oleh Rasulullah.

Perundingan tersebut melahirkan kesepakatan antara dua belah pihak, dan melahirkan sebuah perjanjian, yang dikenal dalam sejarah sebagai perjannian Hudaibiyah (Sulhul Hudaibiyah) isi perjanjian tersebut adalah :

1) Selama 10 tahun diberlakukan gencatan senjata antara kaum kafir Quraisy penduduk Mekah dan umat Islam penduduk Madinah.
2) Orang Islam dan kaum Kafir Quraisy yang dating kepada kaum umat Islam, tanpa seizing walinya hendaklah ditolak oleh umat Islam.
3) Kaum Quraisy tidak menolak orang-orang Islam kembali dan bergabung dengan mereka.
4) Tiap kabilah yang ingin masuk dalam persekutuan dengan kaum Quraisy, atau dengan kaum Muslimin dibolehkan dan tidak akan mendapatkan rintangan.
5) Kaum Muslimin tidak jadi mengerjakan umrah saat itu, mereka kembali ke Madinah, dan boleh mengerjakan umrah di tahun berikutnya, dengan persyaratan:
- Kaum Muslimin memasuki kota Meka setelah penduduknya untuk sementara keluar dari kota Mekah.
- Kaum muslimin memasuki kota Mekah tidak boleh membawa senjata
- Kaum Muslimin tidak boleh berada di dalam kota Mekah tidak lebih dari tiga hari tiga malam.

Kaum kafir Quraisy mengetahui, bahwa perjanjian Hudaibiyah itu sangat menguntungkan kaum Muslimin. Umat Islam semangkin kuat, karena hampir seluruh semenanjung Arab, termasuk suku-suku bangsa Arab yang paling selatan telah menggabungkan diri kepada Islam.

Kaum kafir Quraisy merasa terpojok, dan mereka secara sepihak berniat membatalkan perjanjian Hudaibiyah itu, dengan cara menyerang bani Khuza’ah yang berada di bawah perlindungan Islam. Sejumlah orang Bani Khuza’ah mereka bunuh dan selebihnya mereka cerai-beraikan. Bani Khuza’ah segera mengadu kepada Rasulullah SAW dan mohon keadilan.

Mendapatkan pengaduan seperti itu kemudian Nabi Muhammad SAW dengan sepuluh ribu bala tentaranya berangkat menuju kota Mekah untuk membebaskan kota Meka dari para penguasa kafir dan zalim, yang telah melakukan pembunuhan secara kejam terhadap umat Islam dari Bani Khuza’ah.

Rasulullah sebenarnya tidak menginginkan terjadinya perperangan, yang sudah tentu akan menelan banyak korban jiwa. Untuk itu Rasulullah SAW dan bala tentaranya berkemah di pinggit kota Mekah dengan maksud agar kaum kafir Quraisy melihat sendiri kekuatan besar dari bala tentara kaum Muslimin.

Taktik Rasulullah seperti itu ternyata berhasil, sehingga dua orang pimpinan Quraisy yaitu Abbas (paman Rasulullah) dan Abu Sofyan (seorang bangsawan Quraisy yang lahir 567 M dan wafat tahun 652 M) datang menemui Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam.

Dengan masuk Islamnya kedua orang pimpinan kaum kafir Quraisy tersebut, Rasulullah dan bala tentaranya dapat memasuki kota Mekah dengan aman dan membebaskan kota itu dari pada penguasa kaum kafir Quraisy yang zalim. Pembebasan kota Mekah ini terjadi pada tahun 8 H secara damai tanpa adanya pertumpahan darah.


Dakwah Islamiah keluar dari Jazirah Arabia

Rasulullah menyerukan umat manusia di luar Jazirah Arabia agar memeluk agama Islam, dengan jalan mengirim utusan untuk menyampaikan surat dakwah Rasulullah kepada penguasa atau para pembesar mereka. Para penguasa atau para pembesar Negara yang dikirimi surat dakwah Rasulullah itu seperti :

1. Heraclius, Kaisar Romawi Timur
Yang menerima surat dakwah Rasulullah, melalui utusannya Dihija bin Khalifa. Heraclius tidak menerima seruan dakwah Rasulullah itu. Karena tidak mendapatkan persetujuan dari para pembesar Negara dan para pendeta. Namun surat dakwah itu dibalasnya dengan tutur kata sopan, disamping mengirimkan hadiah untuk Rasulullah.

2. Muqauqis, Gubernur Romawi di Mesir
Rasulullah SAW mengiri surat dakwah kepada Muqauqis melalui utusannya yang bernama hatib. Setelah surat dibaca Muqauqis belum bisa menerima seruan untuk masuk Islam, namun dia menyampaikan surat balasan kepada Rasulullah dan mengirim hadiah-hadiah berupa seorang budak wanita, kuda, keledai, dan pakaian-pakaian.

3. Syahinsyah, Kaisar Persia
Syahinsyah adalah penguasa yang lalim dan sombong, karena kesombongannya surat dakwah Rasulullah itu dirobeknya. Mengetahui surat dakwah itu dirobek-robek. Rasulullah menjelaskan bahwa Syahinsyah akan dibunuh oleh anaknya sendiri pada malam selasa 10 Jumadil Awal tahun ke 7 H. apa yang diucapakan Rasulullah ternyata sesuai dengan kenyataan. Syahinsyah dibunuh anaknya sendiri Asy-Syirwaih karena kelalimannya.

4. Kemudian surat dakwah Rasulullah dikirimkan pula kepada An-Najasyi (Raja Ethopia), Al-Munzir bin Sawi (Raja Bahrian), Hudzah bin Ali (Raja Yamamah), dan Al-Haris (Gubernur Romawi di Syam).


Diantara pengusa-penguasa tersebut yang menerima seruan dakwah Rasulullah hanyalah Al-Munzir bin Sawi penguasa Bahrian yang menyatakan masuk Islam dan mengajak para pembesar Negara dan raknyatnya agar masuk Islam.

Strategi Dakwah Rasulullah Periode Madinah


Pokok-pokok pikirannya dijadikan dakwah Rasulullah periode Madinah adalah :
1. Beradakwah dimulai dari diri sendiri, maksudnya sebelum mengajak orang lain meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya, maka terlebih dahulu orang yang berdakwah itu harus meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya.
2. Cara (metode) melaksanakan dakwah sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam Surat An-Nahl, 16 : 125
3. Berdakwah itu hukumnnya wajib bagi Rasulullah SAW dan umatnya. Dalil wajibnya : Al-Qur’an Surah Ali Imran, 3: 104, dan hadist Rasulullah SAW.

Usaha-usaha Rasulullah dalam mewujudkan masyarakat Islam seperti tersebut adalah :


a. Membangun Masjid

 
Mesjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah ialah Masjid Quba, yang berjarak 5 Km, sebelah barat daya Madinah. Masjid Quba ini dibangun pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijrah (20 September 622 M).

Setelah Rasulullah menetap di Madinah, pada setiap hari Sabtu sering mengunjungi Masjid Quba untuk shalat berjama’ah dan menyampaikan dakwah Islam. Fungsi atau peranan mesjid pada masa Rasulullah adalah sebagai berkut:


- Masjid sebagai sarana pembinaan umat Islam dibidang Akidah, ibadah dan ahklak.
- Masjid merupakan sarana ibadah, khususnya shalat lima waktu, shalat jum’at, shalat tarawih, shalat idul fitri, dan idul adha (lihat Quraisy Al Jinn, 72: 181).
- Masjid merupakan tempat belajar dan mengajar tentang agama Islam yang bersumber pada AlQur’an dan Hadist.
- Masjid sebagai tempat pertemuan untuk menjalin hubungan persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) demi mewujudkan persatuan.
- Menjadikan masjid sebagai sarana kegiatan sosial, misalnya sebagai tempat penampungan zakat, infak dan sedekah dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya terutama para fakir miskin dan anak-anak yatim terlantar.
- Menjadikan halaman masjid dengan memasang tenda, sebagai tempat pengobatan para penderita sakit, terutama para pejuang Islam yang menderita luka akibat perang melawan orang-orang kafir.


Sejarah mencatat adanya seorang perawat wanita terkenal pada masa Rasulullah yang bernama "Rafidah".

-  Rasulullah menjadikan masjid sebagai tempat bermusyawarah dengan para sahabatnya. Masalah-masalah yang dimusyawarahkan antara lain: Usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan, usaha-usaha untuk memajukan umat Islam, dan strategi peperangan melawan musuh-musuh Islam agar memperoleh kemenangan.

b. Mempersaudarakan antar kaum Muhajirin dan Ansar


Muhajirin adalah para sahabat Rasulullah SAW penduduk Mekah yang berhijrah ke Madinah. Ansar adalah para sahabat Roderick penduduk asli Madinah yang memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin.

Rasulullah SAW memberi contoh dengan mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya. Apa yang dicontoh oleh Rasulullah SAW di contoh oleh seluruh sahabatnya misalnya :

- Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW, pahlawan Islam yang berani bersaudara dengan Zaid bin Haritsah, mantan hamba sahaya, yang kemudian dijadikan anak angkat Rasulullah.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq, bersaudara dengan Kharizah bin Zaid
- Umar bin Khatab bersaudara dengan Irban bin Malain Khazraji (Ansar).
- Utsman bin Affan bersaudara dengan Aus bin Tsabit.
- Abdurrahman bin Aur bersaudara dengan Sa’ad bin Rabi (Ansar).

Demikianlah seterusnya setiap orang Muhajirin dan orang Ansar, termasuk Muhajirin setelah hijrahnya Rasulullah, dipersaudarakan secara sepasang-sepasang, layaknya seperti saudara senasab.

Kaum Ansar dengan ikhlas memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin berupa tempat tinggal, sandang, pangan dan lain-lain yang diperlukan. Namun kaum Muhajiri juga tidak berpengku tangan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mencari nafkah agar dapat hidup mandiri. Misalnya Abdurrahman bin Auf menjadi pedagang, Abu Bakar, Umar bin Khatab dan Ali bin Abu Thalib menjadi petanu kurma.

Kaum Muhajirin yng belum mempunyai tempat tinggal dan mata pencaharian oleh Rasulullah ditempatkan dibagian Masjid Nabawi yang beratap yang disebut Suffa dan mereka dinamakan Ahlus Suffa (Penghuni Suffa).

Kebutuhan-kebutuhan mereka dicukupi oleh kaum Muhajirin dan ansar secara bergotong royong. Kegiatan ahlus Suffa itu antara lain mempelajari dan menghafal Al-Qur’an dan Hadist, kemudian diajarkannya kepada yang lain. Sedangkan apabila terjadi perang antara kaum Muslimin dengan kaum Kafir, mereka ikut berperang.

c. Perjanjian Bantu Membantu antara Umat Islam dengan Umat Non-Islam

Pada waktu Rasulullah menetap di Madinah, penduduknya terdiri dari tiga golongan, yaitu umat Islam, umat Yahudi (bani Qainuqa, bani Nazir, dan Bani Quraizah), dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam.
Rasulullah membuat perjanjian dengan penduduk Madinah non Islam dan tertuang dalam piagam Madinah. Isi piagam Madinah itu antara lain:

1. Setiap golongan dari ketiga golongan penduduk Madinah memiliki hak pribadi, keagamaan, dan politik. Sehubungan dengan itu setiap golongan penduduk Madinah berhak menjatuhkan hukuman kepada orang yang membuat kerusakan dan memberi keamanan kepada orang-orang yang mematuhi peraturan.

2. Setiap individu penduduk Madinah mendapat jaminan kebebasan beragama.

3. Seluruh penduduk Madinah yang terdiri dari kaum Muslimin, kaum Yahudi, dan orang Arab yang belum masuk Islam sesame mereka hendaknya saling membantu dalam bidang Moril dan materil. Apabila Madinah diserang musuh, maka seluruh penduduk Madinah harus membantu dalam mempertahankan kota Madinah.

4. Rasulullah adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah, segala perkara dan perselisihan besar yang terjadi di Madinah harus diajukan kepada Rasulullah untuk diadili sebagaimana mestinya.

d. Meletakkan dasar-dasar Politik, Ekonomi, dan Sosial Islami demi Terwujudnya Masyarakat Madani.

Islam tidak hanya mengajarkankan bidang akidah dan ibadah, tetapi mengajarkan juga bidang politik, ekonomi dan sosial, yang kesemuanya bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.

Pada masa Rasulullah, penduduk Madinah mayoritas sudah beragama Islam, sehingga masyarakat Islam sudah terbentuk, maka adanya pemerintahan Islam merupakan keharusan. Rasulullah selain sebagai seorang nabi dan rasul, juga tampil sebagai seorang Kepala Negara (Khalifah).

Sebagai kepala Negara, Rasulullah telah meletakkan dasar bagi sistem politik Islam, yakni musyawarah. Melalui musyawarah, umat Islam dapat mengangkat wakil-wakil rakyat dan kepala pemerintahan, serta membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh seluruh rakyatnya. Dengan syarat, peraturan itu tidak menyimpang dari tuntunan Al-Qur’an dan Hadist (dalil Naqlinya Q.S An-Nisa’ 4: 59).

Dalam bidang ekonomi Rasulullah telah meletakkan dasar bahwa sistem ekonomi Islam itu harus dapat menjamin terwujudnya keadilan sosial. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, Rasulullah telah meletakkan dasar antara lain adanya persamaan derajat diantara semua individu, semua golongan, dan semua bangsa.


Sesuatu yang membedakan derajat manusia ialah amal salehnya atau hidupnya yang bermanfaat (terkait Q.S. Al-Hujuraat, 49: 13).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...